Minggu, 03 Juni 2012

Pengertian dab Ciri - Ciri Pantun

Pantun

Pantun ialah puisi lama yang terikat oleh syarat-syarat tertentu (jumlah baris, jumlah suku kata, kata, persajakan, dan isi).

Ciri-ciri pantun adalah

a. Pantun terdiri dari sejumlah baris yang selalu genap yang merupakan satu kesatuan yang disebut bait/kuplet.

b. Setiap baris terdiri dari empat kata yang dibentuk dari 8-12 suku kata (umumnya 10 suku kata).

c. Separoh bait pertama merupakan sampiran (persiapan memasuki isi pantun), separoh bait berikutnya merupakan isi (yang mau disampaikan).

d. Persajakan antara sampiran dan isi selalu paralel (ab-ab atau abc-abc atau abcd-abcd atau aa-aa)

e. Beralun dua

Berdasarkan bentuk/jumlah baris tiap bait, pantun dibedakan menjadi

a. Pantun biasa, yaitu pantun yang terdiri dari empat baris tiap bait.

b. Pantun kilat/karmina, yiatu pantun yang hanya tersusun atas dua baris.

c. Pantun berkait, yiatu pantun yang tersusun secara berangkai, saling mengkait antara bait pertama dan bait berikutnya.

d. Talibun, yaitu pantun yang terdiri lebih dari empat baris tetapi selalu genap jumlahnya, separoh merupakan sampiran, dan separho lainnya merupakan isi.

e. Seloka, yaitu pantun yang terdiri dali empat baris sebait tetapi persajakannya datar (aaaa).

Berdasarkan isinya, pantun dibedakan menjadi

a. Pantun anak-anak

- pantun bersuka cita

- pantun berduka cita

b. Pantun muda

- pantun perkenalan

- pantun berkasih-kasihan

- pantun perceraian

- pantun beriba hati

- pantun dagang

c. Pantun tua

- pantun nasehat

- pantun adat

- pantun agama

d. Pantun jenaka

e. Pantun teka-teki

Jenis Folklor

Jan Harold Brunvand, seorang ahli folklor Amerika Serikat, membagi folklor ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan tipenya yaitu folklor lisan, sebagian lisan, dan bukan lisan.
 
a. Folklor Lisan

Folklor jenis ini dikenal juga sebagai fakta mental (mentifact) yang meliputi sebagai berikut:

    (1) bahasa rakyat seperti logat bahasa (dialek), slang, bahasa tabu, otomatis;
    (2) ungkapan tradisional seperti peribahasa dan sindiran;
    (3) pertanyaan tradisonal yang dikenal sebagai teka-teki;
    (4) sajak dan puisi rakyat, seperti pantun dan syair;
    (5) cerita prosa rakyat, cerita prosa rakyat dapat dibagi ke dalam tiga golongan besar, yaitu: mite (myth), legenda (legend), dan dongeng (folktale), seperti Malin Kundang dari Sumatra Barat, Sangkuriang dari Jawa Barat, Roro Jonggrang dari Jawa Tengah, dan Jaya Prana serta Layonsari dari Bali;
    (6) nyanyian rakyat, seperti “Jali-Jali” dari Betawi.


b. Folklor sebagian Lisan

Folklor ini dikenal juga sebagai fakta sosial (sosiofact), meliputi sebagai berikut:

    (1) kepercayaan dan takhayul;
    (2) permainan dan hiburan rakyat setempat;
    (3) teater rakyat, seperti lenong, ketoprak, dan ludruk;
    (4) tari rakyat, seperti tayuban, doger, jaran, kepang, dan ngibing, ronggeng;
    (5) adat kebiasaan, seperti pesta selamatan, dan khitanan;
    (6) upacara tradisional seperti tingkeban, turun tanah, dan temu manten;
    (7) pesta rakyat tradisional seperti bersih desa dan meruwat.


c. Folklor Bukan Lisan

Folklor ini juga dikenal sebagai artefak meliputi sebagai berikut:

    (1) arsitektur bangunan rumah yang tradisional, seperti Joglo di Jawa, Rumah Gadang di Minangkabau, Rumah Betang di Kalimantan, dan Honay di Papua;
    (2) seni kerajinan tangan tradisional,
    (3) pakaian tradisional;
    (4) obat-obatan rakyat;
    (5) alat-alat musik tradisional;
    (6) peralatan dan senjata yang khas tradisional;
    (7) makanan dan minuman khas daerah.

D. Fungsi Folklor

Adapun fungsi folklor, yaitu sebagai berikut:
a. Sebagai sistem proyeksi, yakni sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif.
b. Sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan.
c. Sebagai alat pendidik anak.
d. Sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya.

Sebagaimana telah dikemukakan, manusia praaksara telah memiliki kesadaran sejarah. Salah satu cara kita untuk melacak bagaimana kesadaran sejarah yang mereka miliki ialah dengan melihat bentuk folklor. Bentuk
folklor yang berkaitan dengan kesadaran sejarah adalah cerita prosa rakyat. Termasuk prosa rakyat antara lain mite atau mitologi dan legenda.

Ciri - Ciri Folklor

. Ciri-ciri folklore

 Agar dapat membedakan antara folklor dengan kebudayaan lainnya, harus diketahui ciri-ciri utama folklor. Folklor memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

    (a) Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yaitu melalui tutur kata dari mulut ke mulut dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
    (b) Bersifat tradisional, yaitu disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar.
    (c) Berkembang dalam versi yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan penyebarannya secara lisan sehingga folklor mudah mengalami perubahan. Akan tetapi, bentuk dasarnya tetap bertahan.
    (d) Bersifat anonim, artinya pembuatnya sudah tidak diketahui lagi orangnya.
    (e) Biasanya mempunyai bentuk berpola. Kata-kata pembukanya misalnya. Menurut sahibil hikayat (menurut yang empunya cerita) atau dalam bahasa Jawa misalnya dimulai dengan kalimat anuju sawijing dina (pada suatu hari).
    (f) Mempunyai manfaat dalam kehidupan kolektif. Cerita rakyat misalnya berguna sebagai alat pendidikan, pelipur lara, protes sosial, dan cerminan keinginan terpendam.
    (g) Bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum. Ciri ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan.
    (h) Menjadi milik bersama (colective) dari masyarakat tertentu.
    (i) Pada umumnya bersifat lugu atau polos sehingga seringkali kelihatannya kasar atau terlalu sopan. Hal itu disebabkan banyak folklor merupakan proyeksi (cerminan) emosi manusia yang jujur.

Folklor

A. Pengertian Folklor
Folklor sering diidentikkan dengan tradisi dan kesenian yang berkembang pada zaman sejarah dan telah menyatu dalam kehidupan masyarakat. Di dalam masyarakat Indonesia, setiap daerah, kelompok, etnis, suku, bangsa, golongan agama masing-masing telah mengembangkan folklornya sendiri-sendiri sehingga di Indonesia terdapat aneka ragam folklore. Folklor ialah kebudayaan manusia (kolektif) yang diwariskan secara turun-temurun, baik dalam bentuk lisan maupun gerak isyarat.Dapat juga diartikan Folklor adalah adat-istiadat tradisonal dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, dan tidak dibukukan merupakan kebudayaan kolektif yang tersebar dan diwariskan turun menurun. 

Kata folklor merupakan pengindonesiaan dari bahasa Inggris. Kata tersebut merupakan kata majemuk yang berasal dari dua kata dasar yaitu folk dan lore. Menurut Alan Dundes kata folk berarti sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok sosial lainnya. Ciri-ciri pengenal itu antara lain, berupa warna kulit, bentuk rambut, mata pencaharian, bahasa, taraf pendidikan, dan agama yang sama. Namun, yang lebih penting lagi adalah bahwa mereka telah memiliki suatu tradisi, yaitu kebudayaan yang telah mereka warisi secara turun-temurun, sedikitnya dua generasi, yang telah mereka akui sebagai milik bersama. Selain itu, yang paling penting adalah bahwa mereka memiliki kesadaran akan identitas kelompok mereka sendiri. Kata lore merupakan tradisi dari folk, yaitu sebagian kebudayaan yang diwariskan secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device). Dengan demikian, pengertian folklor adalah bagian dari kebudayaan yang disebarkan dan diwariskan secara tradisional, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat.

Jumat, 01 Juni 2012

keong mas (cerita rakyat)

Alkisah pada jaman dahulu kala hiduplah seorang pemuda bernama Galoran. Ia termasuk orang yang disegani karena kekayaan dan pangkat orangtuanya. Namun Galoran sangatlah malas dan boros. Sehari-hari kerjanya hanya menghambur-hamburkan harta orangtuanya, bahkan pada waktu orang tuanya meninggal dunia ia semakin sering berfoya-foya. Karena itu lama kelamaan habislah harta orangtuanya. Walaupun demikian tidak membuat Galoran sadar juga, bahkan waktu dihabiskannya dengan hanya bermalas-malasan dan berjalan-jalan. Iba warga kampung melihatnya. Namun setiap kali ada yang menawarkan pekerjaan kepadanya, Galoran hanya makan dan tidur saja tanpa mau melakukan pekerjaan tersebut. Namun akhirnya galoran dipungut oleh seorang janda berkecukupan untuk dijadikan teman hidupnya. Hal ini membuat Galoran sangat senang ; "Pucuk dicinta ulam pun tiba", demikian pikir Galoran.

Janda tersebut mempunyai seorang anak perempuan yang sangat rajin dan pandai menenun, namanya Jambean. Begitu bagusnya tenunan Jambean sampai dikenal diseluruh dusun tersebut. Namun Galoran sangat membenci anak tirinya itu, karena seringkali Jambean menegurnya karena selalu bermalas-malasan.
Rasa benci Galoran sedemikian dalamnya, sampai tega merencanakan pembunuhan anak tirinya sendiri. Dengan tajam dia berkata pada istrinya : " Hai, Nyai, sungguh beraninya Jambean kepadaku. Beraninya ia menasehati orangtua! Patutkah itu ?" "Sabar, Kak. Jambean tidak bermaksud buruk terhadap kakak" bujuk istrinya itu. "Tahu aku mengapa ia berbuat kasar padaku, agar aku pergi meninggalkan rumah ini !" seru nya lagi sambil melototkan matanya. "Jangan begitu kak, Jambean hanya sekedar mengingatkan agar kakak mau bekerja" demikian usaha sang istri meredakan amarahnya. "Ah .. omong kosong. Pendeknya sekarang engkau harus memilih .. aku atau anakmu !" demikian Galoran mengancam.

Sedih hati ibu Jambean. Sang ibu menangis siang-malam karena bingung hatinya. Ratapnya : " Sampai hati bapakmu menyiksaku jambean. Jambean anakku, mari kemari nak" serunya lirih. "Sebentar mak, tinggal sedikit tenunanku" jawab Jambean. "Nah selesai sudah" serunya lagi. Langsung Jambean mendapatkan ibunya yang tengah bersedih. "Mengapa emak bersedih saja" tanyanya dengan iba. Maka diceritakanlah rencana bapak Jambean yang merencanakan akan membunuh Jambean. Dengan sedih Jambean pun berkata : " Sudahlah mak jangan bersedih, biarlah aku memenuhi keinginan bapak. Yang benar akhirnya akan bahagia mak". "Namun hanya satu pesanku mak, apabila aku sudah dibunuh ayah janganlah mayatku ditanam tapi buang saja ke bendungan" jawabnya lagi. Dengan sangat sedih sang ibu pun mengangguk-angguk. Akhirnya Jambean pun dibunuh oleh ayah tirinya, dan sesuai permintaan Jambean sang ibu membuang mayatnya di bendungan. Dengan ajaib batang tubuh dan kepala Jambean berubah menjadi udang dan siput, atau disebut juga dengan keong dalam bahasa Jawanya.

Tersebutlah di Desa Dadapan dua orang janda bersaudara bernama Mbok Rondo Sambega dan Mbok Rondo Sembadil. Kedua janda itu hidup dengan sangat melarat dan bermata pencaharian mengumpulkan kayu dan daun talas. Suatu hari kedua bersaudara tersebut pergi ke dekat bendungan untuk mencari daun talas. Sangat terpana mereka melihat udang dan siput yang berwarna kuning keemasan. "Alangkah indahnya udang dan siput ini" seru Mbok Rondo Sambega "Lihatlah betapa indahnya warna kulitnya, kuning keemasan. Ingin aku bisa memeliharanya" serunya lagi. "Yah sangat indah, kita bawa saja udang dan keong ini pulang" sahut Mbok Rondo Sembadil. Maka dipungutnya udang dan siput tersebut untuk dibawa pulang. Kemudian udang dan siput tersebut mereka taruh di dalam tempayan tanah liat di dapur. Sejak mereka memelihara udang dan siput emas tersebut kehidupan merekapun berubah. Terutama setiap sehabis pulang bekerja, didapur telah tersedia lauk pauk dan rumah menjadi sangat rapih dan bersih. Mbok Rondo Sambega dan Mbok Rondo Sembadil juga merasa keheranan dengan adanya hal tersebut. Sampai pada suatu hari mereka berencana untuk mencari tahu siapakah gerangan yang melakukan hal tersebut.

Suatu hari mereka seperti biasanya pergi untuk mencari kayu dan daun talas, mereka berpura-pura pergi dan kemudian setelah berjalan agak jauh mereka segera kembali menyelinap ke dapur. Dari dapur terdengar suara gemerisik, kedua bersaudara itu segera mengintip dan melihat seorang gadis cantik keluar dari tempayan tanah liat yang berisi udang dan Keong Emas peliharaan mereka. "tentu dia adalah jelmaan keong dan udang emas itu" bisik Mbok Rondo Sambega kepada Mbok Rondo Sembadil. "Ayo kita tangkap sebelum menjelma kembali menjadi udang dan Keong Emas" bisik Mbok Rondo Sembadil. Dengan perlahan-lahan mereka masuk ke dapur, lalu ditangkapnya gadis yang sedang asik memasak itu. "Ayo ceritakan lekas nak, siapa gerangan kamu itu" desak Mbok Rondo Sambega "Bidadarikah kamu ?" sahutnya lagi. "bukan Mak, saya manusia biasa yang karena dibunuh dan dibuang oleh orang tua saya, maka saya menjelma menjadi udang dan keong" sahut Jambean lirih. "terharu mendengar cerita Jambean kedua bersaudara itu akhirnya mengambil Keong Emas sebagai anak angkat mereka. Sejak itu Keong Emas membantu kedua bersaudara tersebut dengan menenun. Tenunannya sangat indah dan bagus sehingga terkenallah tenunan terebut keseluruh negeri, dan kedua janda bersaudara tersebut menjadi bertambah kaya dari hari kehari.

Sampailah tenunan tersebut di ibu kota kerajaan. Sang raja muda sangat tertarik dengan tenunan buatan Jambean atau Keong Emas tersebut. Akhirnya raja memutuskan untuk meninjau sendiri pembuatan tenunan tersebut dan pergi meninggalkan kerajaan dengan menyamar sebagai saudagar kain. Akhirnya tahulah raja perihal Keong Emas tersebut, dan sangat tertarik oleh kecantikan dan kerajinan Keong Emas. Raja menitahkan kedua bersaudara tersebut untuk membawa Jambean atau Keong Emas untuk masuk ke kerajaan dan meminang si Keong Emas untuk dijadikan permaisurinya. Betapa senang hati kedua janda bersaudara tersebut.

DMCA Protection on: http://www.lokerseni.web.id/2012/01/cerita-rakyat-keong-mas.html#ixzz1wbqIE55B

cerita rakyat

LUTUNG KASARUNG
Cerita Rakyat Jawa Barat

Pada jaman dahulu kala di tatar pasundan ada sebuah kerajaan yang pimpin oleh seorang raja yang bijaksana, beliau dikenal sebagai Prabu Tapak Agung.

Prabu Tapa Agung mempunyai dua orang putri cantik yaitu Purbararang dan adiknya Purbasari.

Pada saat mendekati akhir hayatnya Prabu Tapak Agung menunjuk Purbasari, putri bungsunya sebagai pengganti. “Aku sudah terlalu tua, saatnya aku turun tahta,” kata Prabu Tapa.

Purbasari memiliki kakak yang bernama Purbararang. Ia tidak setuju adiknya diangkat menggantikan Ayah mereka. “Aku putri Sulung, seharusnya ayahanda memilih aku sebagai penggantinya,” gerutu Purbararang pada tunangannya yang bernama Indrajaya. Kegeramannya yang sudah memuncak membuatnya mempunyai niat mencelakakan adiknya. Ia menemui seorang nenek sihir untuk memanterai Purbasari. Nenek sihir itu memanterai Purbasari sehingga saat itu juga tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bertotol-totol hitam. Purbararang jadi punya alasan untuk mengusir adiknya tersebut. “Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas menjadi seorang Ratu !” ujar Purbararang.

Kemudian ia menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan Purbasari ke hutan. Sesampai di hutan patih tersebut masih berbaik hati dengan membuatkan sebuah pondok untuk Purbasari. Ia pun menasehati Purbasari, “Tabahlah Tuan Putri. Cobaan ini pasti akan berakhir, Yang Maha Kuasa pasti akan selalu bersama Putri”. “Terima kasih paman”, ujar Purbasari.

Selama di hutan ia mempunyai banyak teman yaitu hewan-hewan yang selalu baik kepadanya. Diantara hewan tersebut ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Tetapi kera tersebut yang paling perhatian kepada Purbasari. Lutung kasarung selalu menggembirakan Purbasari dengan mengambilkan bunga –bunga yang indah serta buah-buahan bersama teman-temannya.

Pada saat malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap aneh. Ia berjalan ke tempat yang sepi lalu bersemedi. Ia sedang memohon sesuatu kepada Dewata. Ini membuktikan bahwa Lutung Kasarung bukan makhluk biasa. Tidak lama kemudian, tanah di dekat Lutung merekah dan terciptalah sebuah telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya mengandung obat yang sangat harum.

Keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan memintanya untuk mandi di telaga tersebut. “Apa manfaatnya bagiku ?”, pikir Purbasari. Tapi ia mau menurutinya. Tak lama setelah ia menceburkan dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya. Kulitnya menjadi bersih seperti semula dan ia menjadi cantik kembali. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika ia bercermin ditelaga tersebut.

Di istana, Purbararang memutuskan untuk melihat adiknya di hutan. Ia pergi bersama tunangannya dan para pengawal. Ketika sampai di hutan, ia akhirnya bertemu dengan adiknya dan saling berpandangan. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula. Purbararang tidak mau kehilangan muka, ia mengajak Purbasari adu panjang rambut. “Siapa yang paling panjang rambutnya dialah yang menang !”, kata Purbararang. Awalnya Purbasari tidak mau, tetapi karena terus didesak ia meladeni kakaknya. Ternyata rambut Purbasari lebih panjang.

“Baiklah aku kalah, tapi sekarang ayo kita adu tampan tunangan kita, Ini tunanganku”, kata Purbararang sambil mendekat kepada Indrajaya. Purbasari mulai gelisah dan kebingungan. Akhirnya ia melirik serta menarik tangan Lutung Kasarung. Lutung Kasarung melonjak-lonjak seakan-akan menenangkan Purbasari. Purbararang tertawa terbahak-bahak, “Jadi monyet itu tunanganmu ?”.

Pada saat itu juga Lutung Kasarung segera bersemedi. Tiba-tiba terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung berubah menjadi seorang Pemuda gagah berwajah sangat tampan, lebih dari Indrajaya. Semua terkejut melihat kejadian itu seraya bersorak gembira. Purbararang akhirnya mengakui kekalahannya dan kesalahannya selama ini. Ia memohon maaf kepada adiknya dan memohon untuk tidak dihukum. Purbasari yang baik hati memaafkan mereka. Setelah kejadian itu akhirnya mereka semua kembali ke Istana.

Purbasari menjadi seorang ratu, didampingi oleh seorang pemuda idamannya. Pemuda yang ternyata selama ini selalu mendampinginya dihutan dalam wujud seekor lutung.

DMCA Protection on: http://www.lokerseni.web.id/2012/01/cerita-rakyat-lutung-kasarung.html#ixzz1wbphCAm6

SASTRA LISAN

KATA PENGANTAR


    Segala puji hanya milik Allah, Sholawat dan salam kepada Rasulullah. Berkat limpahan rahmat dan karuni-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan tugas makalah ini.

    Agama sebagai sistem kepercayaan dalam kehidupan umat manusia dapat dikaji melalui berbagai sudut pandang. Islam sebagai agama yang telah berkembang selama empat belas abad lebih menyimpan banyak masalah yang perlu diteliti, baik itu menyangkut ajaran dan pemikiran keagamaan maupun realitas sosial, politik, ekonomi dan budaya.

    Dalam makalah ini, penulis akan membahas tentang “ Analisis Teka-Teaki bahasa Daerah ” . Semoga makalah ini ini bermanfaat untuk memberikan kontribusi kepada mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan khususnya bagi mahasiswa Bahasa dan sastra Indonesia yang juga ingin mengetahui pembahasan ini. Dan tentunya makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Namun untuk keperluan penyempurnaan kritik dan saran yang sifatnya membangun, penulis sangat harapkan.



                                                                                                                   Kendari , 19 Desember 2011


                                                                                                                                       Penulis



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR        i
DAFTAR ISI        ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang         1
1.2    Rumusan Masalah         2
1.3    Tujuan         2
1.4    Manfaat         2
BAB II KAJIAN TEORI
2.1 Pengertian Semiotik         3
2.2 Semiotik Priminger         3
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Pemaknaan Tingkat Pertama        5
3.2 Pemaknaan Tingkat Kedua        6
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan        8
4.2 Saran        8
DAFTAR PUSTAKA        9
LAMPIRAN        10




BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sastra lisan merupakan karya sastra yang dapat kita temukan dalam masyarakat. Sastra lisan merupakan karya sastra yang beredar di masyarakat atau diwariskan secara turun-menurun dalam bentuk lisan. Dalam hal ini, sastra lisan dapat disebut sebagai folklor. Folk merupakan sebuah komunitas masyarakat tertentu yang memiliki ciri-ciri dan budaya yang sama. Sedangkan lore merupakan sebagian kebudayaan masyarakat yang disampaikan secara turun-menurun dalam bentuk lisan. Jadi, folklor atau sastra lisan adalah suatu kebudayaan yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat tertentu yang diperoleh secara turun-temurun dari mulut ke mulut secara lisan.
Sastra lisan yang dimiliki oleh suatu daerah tertentu, umumnya akan berbeda dengan yang lain. Bahkan dalam daerah yang bersangkutan terdapat kemungkinan tentang adanya versi. Hal ini tidak menjadi persoalan karena ciri khas dari sebuah karya sastra lisan adalah dengan adanya versi. Namun, hal yang menjadi perhatian kita adalah tentang keberadaan sastra lisan yang ada di daerah kita. Memang banyak peneliti yang telah mengkaji sastra lisan yang ada di Indonesia, tetapi masih banyak juga sastra lisan yang terlewatkan oleh peneliti.
Sastra lisan merupakan warisan budaya yang kita miliki. Sudah seharusnya kita sebagai bagian dari masyarakat untuk melestarikannya agar jangan sampai semua itu luntur. Sastra lisan merupakan kajian yang menarik jika kita mampu menelusuri lebih dalam tentang sebuah sastra lisan. Banyak hal yang terkandung dalam sebuah sastra lisan, tidak hanya mencakup makna simbolik, fungsi, serta nilai tetapi juga dapat kita kaji aspek strukturnya sebagaimana struktur dalan sebuah karya sastra. Seperti halnya dengan sebuah karya sastra, sastra lisan dapat ditafsirkan sebagai langkah untuk memperoleh pesan, makna, dan fungsi.
1.2 Rumusan Masalah

    Berdasakan latar belakang yang dikemukakan diatas, maka yang menjadi permasalahan dalam makalah ini adalah : Bagaimana menganalisis teka-teki bahasa daerah dengan menggunakan teori semiotik Priminger berdasarkan pemaknaan tingkat pertama dan pemaknaan tingkat kedua.

1.3 Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan analisis teka-teki bahasa daerah dengan menggunakan teori semiotik priminger berdasarkan pemaknaan tingkat pertama dan pemaknaan tingkat kedua.

1.4 Manfaat

    Manfaat yang diharapkan dalam penulisan makalah ini adalah :
    Manfaat praktis, makalah ini merupakan umpan balik yang sangat berharga dalam meningkatkan pengetahuan mengenai sastra daerah khususnya pembelajaran tentang sastra lisan.
    Manfaat teoritis, memberikan informasi faktual mengenai sastra lisan khususnya dalam menganalisis teka-teki bahasa daerah.

BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Pengertian Semiotik

Semotik adalah suatu pendekatan dalam menganalisis suatu karya sastra yang melihat suatu karya sastra dari tanda-tanda yang menunjukkan adanya makna yang terkandung dalam suatu karya sastra tersebut. Menganalisis menggunakan pendekatan semiotik adalah usaha untuk menangkap tanda-tanda dan memberi makna dari suatu karya sastra tersebut karena karya sastra merupakan suatu sistem tanda yang dibua tberdasarkan konvensi sastra.

Dalam pendekatan semiotik terdapat dua prinsip, yaitu penanda (signifier) atau yang menandai yang merupakan bentuk tanda serta petanda (signified) atau yangditandai yang merupakan arti dari tanda. Berdasarkan hubungan penanda dan petanda,ada tiga jenis tanda pokok, yaitu icon, simbol, dan indeks yang ketiga dari tandatersebut bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat.

2.2 Semiotik Preminger

Menurut Preminger studi semiotik sastra adalah usaha untuk menganalisi ssebuah sistem tanda-tanda dan karena itu menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai arti.

Dalam teori semiotik Preminger untuk menentukan makna dalam suatu karya sastra terdapat dua bentuk tingkat pemaknaan tentang tanda yang  terdapat dalam suatu karya sastra. Bentuk pemaknaan tingkat pertama melihat tanda-tanda yang terdapat dalam suatu karya itu sendiri yang merupakan sistem tanda yang menggunakan lambang  yang disebut dengan bahasa.
Dalam pemaknaan tingkat pertama ini dilihat lambang atau bahasa yang mengandung tanda yang dapat melahirkan suatu makna dalam karya sastra tersebut. Kemudian pada pemaknaan tingkat kedua melihat tanda-tanda yang berasal dari luar karya sastra yang bukan semata-mata melihat makna yang berasal dari bahasa, melainkan makna  yang berhubungan dengan suasana, kejadian nyata dan unsur-unsur yang datangnya dari luar karya sastra tersebut yang ada hubungannya dengan karya sastra itu sendiri.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pemaknaan Tingkat Pertama

1.Wuano        :  Buahnya     :  Bagian tumbuhan yang berasal dari bunga.
   Golu            :  Bola           :  Sesuatu yang bundar
   Kana           :  Seperti       :  Sebagai
   Seu             :  Jarum         :  kawat kecil

2. Pidi             :  Tembak     :  Mengarahgkan kepada, memasukkan
    Horo           :  Lantai     :  Bagian bawah dari bagian rumah
    Wusu          :  Menusuk     :  Mengarahkan
    Enge           :  hidung     :  Indera pencium

3. Tumbuno         :  Ujungnya     :  Bagian atas
    Nii                   :  Kelapa        :  Tumbuhan yang berpokok tinggi
    Tongano          :  Tengahnya   :  Titik diantara dua tepi
    Ue                   :  Rotan          :  Tumbuhan menjalar
    Padano            :  Bawahnya   :  Bagian bawah
    Keu                 :  kayu           :  pohon yang batangnya keras

4. Witando         :  Tanahnya     :  Bumi
    Mia                :  Orang          :  Manusia
    Pinoko           :  Bisa             : Dapat
    Ontoho          :  dilihat           : dipandang, ditonton
    Wita              :  tanah            :  bumi
    Pantato          :  sendiri          :  sendiri
    Nai                :  tidak            :  tidak, tidak dapat
    Pinoko           :  bisa             :  dapat
    Onto              :  dilihat          :  dipandang, ditonton

5. Petumbuno         :  tiangnya     :  tonggak panjang dari kayu
    Asade                :  satu            :  satu, tiada yang lain
    Ba’ono              :  atapnya       :  penutup bangunan bagian atas
    Riwu                  :  ribuan         :  jumlahnya seribu.

3.2 Pemaknaan Tingkat Kedua

1.    Wuano kana golu, leweno kana seu
Buahnya seperti bola, daunnya seperti jarum

    Dalam naskah ini, penulis menggambarkan suatu pengandaian tentang suatu yang besar dan sesuatu yang kecil dalam setiap perbedaan. Namun pada hakekatnya, perbedaan itu akhirnya menyatu menjadi satu bagian.

2.    Pidi horo wusu enge
Tembak lantai menusuk hidung

    Dalam naskah ini, penulis mengungkapkan sebuah teks tentang sesuatu yang telah pergi dari dalam diri kita, yang dianggap bisa menyiksa diri kalau terus – menerus kita menahannya. Sehingga dilepaskan dengan cara disengaja ataupun tidak disengaja  demi menghindari tantangan tersebut. Namun bersamaan dengan itu, kita juga yang merasakan dampak dari itu semua.

3.    Tumbuno nii, tongano ue, padano keu
Ujungnya kelapa, tengahnya rotan, bawahnya kayu

    Dalam naskah ini, penulis menggambarkan suatu perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Namun perbedaan itu akhirnya bisa menyatu menjadi satu bentuk dan tak bisa terpisahkan lagi, ibarat manusia yang selalu diikuti bayangannya.

4.    Witando mia pinoko ontoho, wita pantato nai pinoko onto
Tanahnya orang bisa dilihat, tanah sendiri tidak bisa dilihhat

    Dalam naskah ini, penulis menggambarkan sebuah bentuk perbedaan yang sangat jauh, dan bentuk itu hanya bisa dilihat oleh orang lain, kita hanya bisa memilikinya. Tetapi bentuk itu menjadi sandaran atau perumpamaan bagi kita dan orang lain untuk mengetahui bentuk perbedaan itu, bahwa sesungguhnya apa yang kita miliki belum tentu sama dengan apa yang dimiliki oleh orang lain, begitui juga sebaliknya.

5.    Petumbuno asade, bao’no riwu
Tiangnya satu, tapi atapnya ribuan   

    Dalam naskah ini, penulis menggambarkan sikap tabah dan rasa tanggung jawab. Rela hidup menanggung beban seberat apapun demi kepentingan hidup otang banyak.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

    Dalam teori semiotik Preminger untuk menentukan makna dalam suatu karya sastra terdapat dua bentuk tingkat pemaknaan tentang tanda yang  terdapat dalam suatu karya sastra. Bentuk pemaknaan tingkat pertama melihat tanda-tanda yang terdapat dalam suatu karya itu sendiri yang merupakan sistem tanda yang menggunakan lambang  yang disebut dengan bahasa. Sedangkan pada pemaknaan tingkat kedua melihat tanda-tanda yang berasal dari luar karya sastra yang bukan semata-mata melihat makna yang berasal dari bahasa, melainkan makna  yang berhubungan dengan suasana, kejadian nyata dan unsur-unsur yang datangnya dari luar karya sastra tersebut yang ada hubungannya dengan karya sastra itu sendiri.

4.2 Saran

Saran yang bisa diberikan bagi kita semua melalui makalah ini adalah:

    Dengan banyaknya  kita melatih diri dalam menganalisis berbagai jenis-jenis karya sastra khususnya teka-teki bahasa daerah, maka kita akan terbiasa dan otomatis akan menguasai teori yang kita gunakan untuk menganalisis tersebut.

    Dengan mengetahui pendekatan semiotik, maka akan memudahkan kita untuk memahami gejala-gejala atau tanda-tanda yang bisa membantu kita dalam memaknai suatu karya. Oleh karena itu tidak ada salahnya jika kita belajar dan memahami lebih dalam tentang pendekatan semiotic.


DAFTAR PUSTAKA


http://www.suarakarya-online.com/
Danandjaya, James. 1991. Folklor Indonesia. Jakarta: Grafiti.
Semi, Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.