Jumat, 01 Juni 2012

SASTRA LISAN

KATA PENGANTAR


    Segala puji hanya milik Allah, Sholawat dan salam kepada Rasulullah. Berkat limpahan rahmat dan karuni-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan tugas makalah ini.

    Agama sebagai sistem kepercayaan dalam kehidupan umat manusia dapat dikaji melalui berbagai sudut pandang. Islam sebagai agama yang telah berkembang selama empat belas abad lebih menyimpan banyak masalah yang perlu diteliti, baik itu menyangkut ajaran dan pemikiran keagamaan maupun realitas sosial, politik, ekonomi dan budaya.

    Dalam makalah ini, penulis akan membahas tentang “ Analisis Teka-Teaki bahasa Daerah ” . Semoga makalah ini ini bermanfaat untuk memberikan kontribusi kepada mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan khususnya bagi mahasiswa Bahasa dan sastra Indonesia yang juga ingin mengetahui pembahasan ini. Dan tentunya makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Namun untuk keperluan penyempurnaan kritik dan saran yang sifatnya membangun, penulis sangat harapkan.



                                                                                                                   Kendari , 19 Desember 2011


                                                                                                                                       Penulis



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR        i
DAFTAR ISI        ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang         1
1.2    Rumusan Masalah         2
1.3    Tujuan         2
1.4    Manfaat         2
BAB II KAJIAN TEORI
2.1 Pengertian Semiotik         3
2.2 Semiotik Priminger         3
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Pemaknaan Tingkat Pertama        5
3.2 Pemaknaan Tingkat Kedua        6
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan        8
4.2 Saran        8
DAFTAR PUSTAKA        9
LAMPIRAN        10




BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sastra lisan merupakan karya sastra yang dapat kita temukan dalam masyarakat. Sastra lisan merupakan karya sastra yang beredar di masyarakat atau diwariskan secara turun-menurun dalam bentuk lisan. Dalam hal ini, sastra lisan dapat disebut sebagai folklor. Folk merupakan sebuah komunitas masyarakat tertentu yang memiliki ciri-ciri dan budaya yang sama. Sedangkan lore merupakan sebagian kebudayaan masyarakat yang disampaikan secara turun-menurun dalam bentuk lisan. Jadi, folklor atau sastra lisan adalah suatu kebudayaan yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat tertentu yang diperoleh secara turun-temurun dari mulut ke mulut secara lisan.
Sastra lisan yang dimiliki oleh suatu daerah tertentu, umumnya akan berbeda dengan yang lain. Bahkan dalam daerah yang bersangkutan terdapat kemungkinan tentang adanya versi. Hal ini tidak menjadi persoalan karena ciri khas dari sebuah karya sastra lisan adalah dengan adanya versi. Namun, hal yang menjadi perhatian kita adalah tentang keberadaan sastra lisan yang ada di daerah kita. Memang banyak peneliti yang telah mengkaji sastra lisan yang ada di Indonesia, tetapi masih banyak juga sastra lisan yang terlewatkan oleh peneliti.
Sastra lisan merupakan warisan budaya yang kita miliki. Sudah seharusnya kita sebagai bagian dari masyarakat untuk melestarikannya agar jangan sampai semua itu luntur. Sastra lisan merupakan kajian yang menarik jika kita mampu menelusuri lebih dalam tentang sebuah sastra lisan. Banyak hal yang terkandung dalam sebuah sastra lisan, tidak hanya mencakup makna simbolik, fungsi, serta nilai tetapi juga dapat kita kaji aspek strukturnya sebagaimana struktur dalan sebuah karya sastra. Seperti halnya dengan sebuah karya sastra, sastra lisan dapat ditafsirkan sebagai langkah untuk memperoleh pesan, makna, dan fungsi.
1.2 Rumusan Masalah

    Berdasakan latar belakang yang dikemukakan diatas, maka yang menjadi permasalahan dalam makalah ini adalah : Bagaimana menganalisis teka-teki bahasa daerah dengan menggunakan teori semiotik Priminger berdasarkan pemaknaan tingkat pertama dan pemaknaan tingkat kedua.

1.3 Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan analisis teka-teki bahasa daerah dengan menggunakan teori semiotik priminger berdasarkan pemaknaan tingkat pertama dan pemaknaan tingkat kedua.

1.4 Manfaat

    Manfaat yang diharapkan dalam penulisan makalah ini adalah :
    Manfaat praktis, makalah ini merupakan umpan balik yang sangat berharga dalam meningkatkan pengetahuan mengenai sastra daerah khususnya pembelajaran tentang sastra lisan.
    Manfaat teoritis, memberikan informasi faktual mengenai sastra lisan khususnya dalam menganalisis teka-teki bahasa daerah.

BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Pengertian Semiotik

Semotik adalah suatu pendekatan dalam menganalisis suatu karya sastra yang melihat suatu karya sastra dari tanda-tanda yang menunjukkan adanya makna yang terkandung dalam suatu karya sastra tersebut. Menganalisis menggunakan pendekatan semiotik adalah usaha untuk menangkap tanda-tanda dan memberi makna dari suatu karya sastra tersebut karena karya sastra merupakan suatu sistem tanda yang dibua tberdasarkan konvensi sastra.

Dalam pendekatan semiotik terdapat dua prinsip, yaitu penanda (signifier) atau yang menandai yang merupakan bentuk tanda serta petanda (signified) atau yangditandai yang merupakan arti dari tanda. Berdasarkan hubungan penanda dan petanda,ada tiga jenis tanda pokok, yaitu icon, simbol, dan indeks yang ketiga dari tandatersebut bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat.

2.2 Semiotik Preminger

Menurut Preminger studi semiotik sastra adalah usaha untuk menganalisi ssebuah sistem tanda-tanda dan karena itu menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai arti.

Dalam teori semiotik Preminger untuk menentukan makna dalam suatu karya sastra terdapat dua bentuk tingkat pemaknaan tentang tanda yang  terdapat dalam suatu karya sastra. Bentuk pemaknaan tingkat pertama melihat tanda-tanda yang terdapat dalam suatu karya itu sendiri yang merupakan sistem tanda yang menggunakan lambang  yang disebut dengan bahasa.
Dalam pemaknaan tingkat pertama ini dilihat lambang atau bahasa yang mengandung tanda yang dapat melahirkan suatu makna dalam karya sastra tersebut. Kemudian pada pemaknaan tingkat kedua melihat tanda-tanda yang berasal dari luar karya sastra yang bukan semata-mata melihat makna yang berasal dari bahasa, melainkan makna  yang berhubungan dengan suasana, kejadian nyata dan unsur-unsur yang datangnya dari luar karya sastra tersebut yang ada hubungannya dengan karya sastra itu sendiri.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pemaknaan Tingkat Pertama

1.Wuano        :  Buahnya     :  Bagian tumbuhan yang berasal dari bunga.
   Golu            :  Bola           :  Sesuatu yang bundar
   Kana           :  Seperti       :  Sebagai
   Seu             :  Jarum         :  kawat kecil

2. Pidi             :  Tembak     :  Mengarahgkan kepada, memasukkan
    Horo           :  Lantai     :  Bagian bawah dari bagian rumah
    Wusu          :  Menusuk     :  Mengarahkan
    Enge           :  hidung     :  Indera pencium

3. Tumbuno         :  Ujungnya     :  Bagian atas
    Nii                   :  Kelapa        :  Tumbuhan yang berpokok tinggi
    Tongano          :  Tengahnya   :  Titik diantara dua tepi
    Ue                   :  Rotan          :  Tumbuhan menjalar
    Padano            :  Bawahnya   :  Bagian bawah
    Keu                 :  kayu           :  pohon yang batangnya keras

4. Witando         :  Tanahnya     :  Bumi
    Mia                :  Orang          :  Manusia
    Pinoko           :  Bisa             : Dapat
    Ontoho          :  dilihat           : dipandang, ditonton
    Wita              :  tanah            :  bumi
    Pantato          :  sendiri          :  sendiri
    Nai                :  tidak            :  tidak, tidak dapat
    Pinoko           :  bisa             :  dapat
    Onto              :  dilihat          :  dipandang, ditonton

5. Petumbuno         :  tiangnya     :  tonggak panjang dari kayu
    Asade                :  satu            :  satu, tiada yang lain
    Ba’ono              :  atapnya       :  penutup bangunan bagian atas
    Riwu                  :  ribuan         :  jumlahnya seribu.

3.2 Pemaknaan Tingkat Kedua

1.    Wuano kana golu, leweno kana seu
Buahnya seperti bola, daunnya seperti jarum

    Dalam naskah ini, penulis menggambarkan suatu pengandaian tentang suatu yang besar dan sesuatu yang kecil dalam setiap perbedaan. Namun pada hakekatnya, perbedaan itu akhirnya menyatu menjadi satu bagian.

2.    Pidi horo wusu enge
Tembak lantai menusuk hidung

    Dalam naskah ini, penulis mengungkapkan sebuah teks tentang sesuatu yang telah pergi dari dalam diri kita, yang dianggap bisa menyiksa diri kalau terus – menerus kita menahannya. Sehingga dilepaskan dengan cara disengaja ataupun tidak disengaja  demi menghindari tantangan tersebut. Namun bersamaan dengan itu, kita juga yang merasakan dampak dari itu semua.

3.    Tumbuno nii, tongano ue, padano keu
Ujungnya kelapa, tengahnya rotan, bawahnya kayu

    Dalam naskah ini, penulis menggambarkan suatu perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Namun perbedaan itu akhirnya bisa menyatu menjadi satu bentuk dan tak bisa terpisahkan lagi, ibarat manusia yang selalu diikuti bayangannya.

4.    Witando mia pinoko ontoho, wita pantato nai pinoko onto
Tanahnya orang bisa dilihat, tanah sendiri tidak bisa dilihhat

    Dalam naskah ini, penulis menggambarkan sebuah bentuk perbedaan yang sangat jauh, dan bentuk itu hanya bisa dilihat oleh orang lain, kita hanya bisa memilikinya. Tetapi bentuk itu menjadi sandaran atau perumpamaan bagi kita dan orang lain untuk mengetahui bentuk perbedaan itu, bahwa sesungguhnya apa yang kita miliki belum tentu sama dengan apa yang dimiliki oleh orang lain, begitui juga sebaliknya.

5.    Petumbuno asade, bao’no riwu
Tiangnya satu, tapi atapnya ribuan   

    Dalam naskah ini, penulis menggambarkan sikap tabah dan rasa tanggung jawab. Rela hidup menanggung beban seberat apapun demi kepentingan hidup otang banyak.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

    Dalam teori semiotik Preminger untuk menentukan makna dalam suatu karya sastra terdapat dua bentuk tingkat pemaknaan tentang tanda yang  terdapat dalam suatu karya sastra. Bentuk pemaknaan tingkat pertama melihat tanda-tanda yang terdapat dalam suatu karya itu sendiri yang merupakan sistem tanda yang menggunakan lambang  yang disebut dengan bahasa. Sedangkan pada pemaknaan tingkat kedua melihat tanda-tanda yang berasal dari luar karya sastra yang bukan semata-mata melihat makna yang berasal dari bahasa, melainkan makna  yang berhubungan dengan suasana, kejadian nyata dan unsur-unsur yang datangnya dari luar karya sastra tersebut yang ada hubungannya dengan karya sastra itu sendiri.

4.2 Saran

Saran yang bisa diberikan bagi kita semua melalui makalah ini adalah:

    Dengan banyaknya  kita melatih diri dalam menganalisis berbagai jenis-jenis karya sastra khususnya teka-teki bahasa daerah, maka kita akan terbiasa dan otomatis akan menguasai teori yang kita gunakan untuk menganalisis tersebut.

    Dengan mengetahui pendekatan semiotik, maka akan memudahkan kita untuk memahami gejala-gejala atau tanda-tanda yang bisa membantu kita dalam memaknai suatu karya. Oleh karena itu tidak ada salahnya jika kita belajar dan memahami lebih dalam tentang pendekatan semiotic.


DAFTAR PUSTAKA


http://www.suarakarya-online.com/
Danandjaya, James. 1991. Folklor Indonesia. Jakarta: Grafiti.
Semi, Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar